Dinginnya hujan menyelimuti tubuhku yang terbalut seragam OSIS SMP Negeri 1 Cilongok. Ku duduk terdiam di salah satu sudut ruangan. Lelah rasanya setelah hampir seharian belajar di dalam kelas. Jam pelajaran tambahan kali ini aku agak bersyukur dengan datangnya hujan yang sangat deras. Karena hujan, guru yang mengajar menjadi tak datang ke kelasku, sehingga aku dapat beristirahat setelah mencatat tugas yang diberikan guruku.
Teman-teman yang lainnya pun begitu. Seteleh selesai mencatat, mereka juga bersantai-santai, bercanda ria, dan yang jelas mereka sangat menikmati kesempatan tak ada guru di kelas. Sambil melihat teman-temanku bercanda ria, sesekali aku menatap keluar jendela. Melihat hujan yang sangat deras jatuh menimpa dedaunan dan jendela kaca kelasku. Lama ku melihat ke luar jendela sehingga secara tak sadar aku berkata,
"Kapan,ya,hujan ini berhenti?"
"HEY........!" Linda mengagetkanku dengan kedatangannya.
"Astaghfirulloh hal'adzim..." Ucapku spontan karena kaget. "Ngapain,sih kamu?!. Bikin jantungku mau lepas aja!" Ucapku agak kesal.
"Hehehe... Maaf..." Ucapnya sembari duduk di sebelahku. "Lagi ngapain, Nan...?" Tanyanya.
"Lagi menyendiri." Jawabku datar, kembali menatap hujan.
"Kok,kamu suka banget menyendiri. apa enak, sih?"
"Hmm..... Nggak juga,sih. Tapi aku suka sendiri." Kemudian aku menatap wajahnya, dan sambil tersenyum aku berkata, "SEndiri itu.... Bebas. Dan aku suka kebebasan."
Mendengar jawabanku ia pun tersenyum.
Tak berselang lama aku dan Linda bercakap-cakap, Murni menghampiri kami dengan memasang wajah masam di sekitar kerudungnya yang putih bersih. Sedih dan bingung, sangat jelas tampak dari raut mukanya itu. Ia kemudian duduk tepat di depan Linda menghadap kami berdua.
Tanpa banyak kata, Linda akhirnya memberanikan diri bertanya,
"Murni, kamu kenapa? Apa ada masalah?"
Dia terdiam. Lalu menatap aku sejenak. Kemudian Linda. Dari sorot matanya yang tajam dan penuh tanya, aku tahu kalau ia ragu.
Ada masalah apa,sih? Cerita aja..." Kataku mencoba menghilangkan keraguan di hatinya.
Sejenak ia berpikir kembali. Menatap wajahku dan Linda berulang kali. Agaknya masih ragu dan gelisah. Dan akhirnya dengan menarik nafas panjang, ia mulai menggerakkan bibirnya pelan,
"Tapi....." Masih sedikit ragu.
"Ya..." Ku coba memperjelas.
"Jangan bilang siapa-siapa, ya..." Dengan lirih dan sedikit memohon.
"Iya... Tenang aja." Kataku kembali meyakinkannya.
Dan ia kembali menarik nafas panjang.
"Begini......"
Ia pun bercerita panjang lebar. Tanpa peduli suara MP3 di sudut ruangan satunya, aku mendengarkan ceritanya yang penuh emosi menguras jiwa. Sesekali, ia berhenti. Ingin mengeluarkan air matanya, tapi aku larang. Aku tak ingin melihatnya menangis. Aku ingin dia tetap kuat, tabah, dan selalu tegar menghadapi ujian kali ini.
Selesai ia bercerita dan meluapkan segala emosi yang ada dalam jiwanya, ia berkata,
"Jadi gimana, nih?"
"Oh.... Jadi mantanmu minta balikan, tapi kamu nggak mau?" Tanya Linda.
"Karena kamu ingin konsentrasi UN?" Tambahku.
"Ya gitu, deh" Jawabnya.
"Tapi..." Sejenak aku tak meneruskan kata-kataku, kemudian mereka menatapku. "Tapi apa kamu udah jelasin alasanmu kenapa kamu nolak dia?"
"Udah, tapi..." Dia tak meneruskan kalimatnya.
"Tapi kenapa?" Tanyaku.
"Tapi dia terus maksa aku..." Dia berhenti sejenak dan menengok ke belakang, memastikan tak ada orang lain yang mendengar selain aku dan Linda. "Tapi aku bingung sama dia..." Linjutnya setelah dirasanya tak ada yang mendengarkan pembicaraan kami bertiaga.
"Bingung kenapa?"
"Dia itu orangnya aneh, Nda..."
Aneh gimana maksudmu?" Tanya Linda.
"Anehnya gini.... Misal kemarin lusa nyindir-nyindir aku, katanya aku udah punya pacar baru, terus sehari berikutnya dia malah mohon-mohon balikan sama aku. Aneh kan?"
"Hehe... Iya juga, sih"
"O, ya, Mur. Sebenernya, kamu masih suka nggak, sih, sama mantanmu itu?" Tanya Linda menghentikan tawa kecilku.
"Mmm...... Gimana, ya....? Kalau dibilang suka..... Tapi dia kaya gitu. Tapi kalau dibilang nggak suka juga....." Berhenti sejenak. "Sebenernya aku masih ada rasa, sih, sedikit. Tapi...... Ya kaya gitu. Dianya aja kaya gitu ke aku. Aku, ya, jadi ragu."
Kami bertiga terdiam, seolah tiada kata lagi yang dapat dikeluarkan. Murni, ia tertunduk lesu menatap meja berwarna cokelat di depannya. Aku memandang hujan di luar jendela yang dari tadi belum reda juga. Dalam hati aku berkata,
"Apa yang harus aku lakukan....? Apa aku harus menyarankan untuk nerima dia? Aaaaagh...... Aku bingung. Tapi kalau dipikir-pikir...." Aku tak melanjutkannya karena melihat Linda yang sedang pencet-pencet tombol HP-nya. Mungkin sedang sms-an, itu pikirku.
"Huft..... Nyesel aku coba-coba pacaran." Kata Murni mengaluh kesah.
"Nah....." Kataku langsung menabrak perkataan Murni."Mungkin gara-gara itu..." Sambil jari telunjukku menunjuk ke Murni. "Menurutku... Kamu itu ragu-ragu sudah dari awal. Ragu-ragu itu sifat syetan. Nabi Muhammad pun pernah bersabda, bahwa jika kamu ragu-ragu untuk melakukan sesuatu, maka lebih baik kamu meninggalkannya. Bukannya kaya gitu?"
"Iya... Tapi gimana lagi coba sekarang?! Aku sudah terlanjur cinta sama dia..." Ucapnya terlihat agak kesal.
"Tapi bukannya kamu udah disakiti ama dia? Kok, masih cinta?"
"Ya nggak tahu... Aku itu... Gimana, ya... Saat ketemu dia emang aku kesal banget. Tapi kalau di rumah aku itu... Ada rasa.... Gimana, ya... Kaya..."
"Kangen gitu?" Tanya Linda memperjelas.
"Ya...... Semacam itulah" Jawabnya agak berfikir sejenak.
Kemudian aku menghela nafas panjang. Bersiap mengatakan sepatah dua patah kata untuk menyejukkan hatinya yang resah.
"Murni...." Kataku menatap mata lentiknya yang agak tajam.
"Ya." balasnya menatap mataku ingin mengetahui apa yang aku katakan.
"Sekarang... Kuncinya ada di tangan kamu. Yang dapat menentukan juga hanyalah kamu. Pilihannya cuma dua. Nerima dia atau tidak. Setiap pilihan pasti punya resikonya masing-masing, tentunya kamu udah tahu, kan?"
"Ya."
"Nah.... Sekarang cara untuk menentukan pilihannya hanyalah satu. Yaitu tenang." aku berhenti sejenak memandang mereka berdua yang sangat serius mendengarkan ucapanku. "Pertama," lanjutku "Kamu harus tenangin dulu hatimu. Jangan terlalu larut dalam masalah. Pikirkanlah awal dan akhirnya."
"Maksudmu?" tanya Murni bingung.
"Jadi gini... Kamu harus tenangin dulu pikiranmu dan juga hatimu. Kemudian pikirkanlah awal masalah yang kamu alami saat ini. Penyebabnya gitu..."
"Ya, terus?"
"Kamu koreksi dulu itu... Perbaikilah...Dan niatkan jangan sampai terulang lagi."
"Ya, aku maksud. Terus maksudmu akhirnya?" tanya Murni.
"Jadi gini... Setelah kamu pikirkan awalnya, pikirkan lagi akhirnya... Yaitu perkiraan kamu jika kamu memilih nerima dia atau tidak. Mungkin lebih tepatnya adalah akibat atau resiko dari keputusan yang kamu ambil. Paham?" tanyaku memecah keseriusan yang ada di raut muka Murni dan Linda.
"Oooh.... Ya ya ya ..." ucap Murni paham.
"Ingat,Mur! Jangan larut dalam masalah! Tapi pikirkanlah awal dan akhirnya!" kataku mencoba memperjelas.
"Ternyata.... Kamu dewasa juga, ya" kata Linda agak kagum.
"Ya.... Walaupun aku nggak pernah pacaran, tapi kan aku sedikit-sedikit belajar dari pengalaman orang lain. Hehehe..."
Mereka pun tersenyum. Tersenyum tanpa peduli hujan yang amat deras. Tersenyum bersama dan tertawa ceria hingga terlupa oleh mereka bahwa jam pelajaran tambahan telah usai \.
"Tett tet teeetttt....!!!"
Bunyi bel tandakan jam pelajaran telah usai. Kami semua segera bergegas untuk pulang. Sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, Murni memanggilku.
"Nanda."
"Ya, apa?" jawabku, juga sambil menata buku bersiap untuk pulang.
"Aku nggak curhat sama kamu kapan-kapan?"
Tanpa banyak berpikir aku menjawab, "Boleh.."
Dan ia pun pulang bersama teman-temannya.
Aku yang pada hari itu tak membawa payung karena memang tidak punya payung, harus pulang hujan-hujanan. Sambil membawa sepatu yang aku masukkan ke dalam tas, aku berjalan pulang sendirian.
Dalam perjalanan aku terus memikirkan Murni. Kasihan dia. Ingin konsentrasi UN malah diganggu mantannya. Dalam hati aku berkata kesal.
"Apa nggak tahu malu mantannya itu?! Bukankah cinta harus membuat bahagia? Bukankah jika kita mencintai seseorang kita harus membuatnya bahagia?"
Dan begitulah selama perjalananku pulang ke rumah. Aku terus bertanya-tanya dalam hati kecilku. Tak peduli dengan hujan yang terus membasahi tubuhku. Aku berharap dan juga, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk semuamya. Itulah doa yang sering kupanjatkan ketika mendapat musibah atau masalah. Doa yang sering membuatku tersenyum sendiri karena sangat sederahana, tapi sangat indah hasilnya. Dan yang membuatku bersemangat lagi ketika teiah terjatuh.
Dan satu kalimat yang sangat aku sukai, yang terkadang, atau mungkin sering kuucapkan, yaitu "Hidup Itu Kaya Kopi Tubruk". Jika cepat-cepat kopi itu diminum, maka rasanya akan pahit. Tapi kalau kita menunggu dengan sabar, pastilah kopi itu akan manis. Yaahh.... Hidup itu memang kaya kopi tubruk.
Created By Juni Nanda Prasetyo.